Langsung ke konten utama

14 Persyaratan yang Harus Dimiliki Anggota Dalmas

Tribratanews.kepri.polri.go.id – Sebagai seorang anggota Polri khususnya Dalmas, tidaklah mudah dalam melaksanakan tugas agar sesuai dengan prosedur dan hukum yang berlaku. Berikut beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh satuan dalmas antara lain :

 

1. Mental dan moral yang baik

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan mental moral yang baik sehingga dalam pelaksanaan tugas pengamanan unjuk rasa akan terhindar dari perbuatan yang tercela, contoh: anggota dalmas dilarang mengeluarkan kata-kata kotor dll, dengan cara pembinaan mental secara rutin satuan Dalmas akan mempunyai mental yang baik.

 

2. Keteguhan hati dan loyalitas tinggi

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan keteguhan hati dan loyalitas tinggi sehingga dalam pelaksanaan tugas pengamanan unjuk rasa tidak    mudah menyerah dengan keadaan dan juga tetap loyal pada kepentingan dinas dengan prinsip sebagai seorang satuan dalmas yang tunduk atas perintah.

 

3. Dedikasi dan disiplin yang tinggi

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan dedikasi dan disiplin yang tinggi dikarenakan pasukan Dalmas senantiasa berhadapan dengan massa yang berasal dari berbagai latar belakang sehingga memerlukan dedikasi dalam tugas dan disiplin yang tinggi karena apabila salah dalam bertindak karena kurangnya dedikasi maka akan berhadapan dengan pelanggaran yang menjurus pada salah prosedur dll.

 

4. Nilai kesamaptaan jasmani paling rendah 65

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan dengan nilai kesamaptaan yang minimal 65 , berarti seorang anggota satuan dalmas diperlukan fisik yang prima dikarenakan pasukan dalmas memerlukan kekuatan fisik yang prima dalam pelaksanaan pengamanan unjuk rasa.

 

5. Penguasaan terhadap peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pengendalian massa.

 

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan Perkap No.16 tahun 2006, Kep Dir Samapta Polri 62/VII/2007, Protap No.01/V/2004, Perkap No.1 tahun 2009 guna menunjang pelaksanaan tugas, sehingga tidak terjadi salah prosedur dan juga salah dalam pelaksanaan tugas. Dengan jalan sering diberikan pelatihan dan juga wawasan tentang undang undang yang berkaitan dengan kegiatan Dalmas.

6. Mampu bekerja sama secara tim

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan kerjasama tim, karena dalam gerakan  dalmas bukan gerakan perorangan tetapi merupakan kerjasama sebuah tim yang terbentuk dalam suatu formasi dalmas.

 

7. Sikap netral

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan sikap netral dalam pelaksanaan tugas, dalam artian satuan dalmas tidak boleh memihak kepada sesuatu golongan tetapi tetap netral melaksanakan tugas sesuai dengan tugas kelompokok fungsi dan peranannya, sehingga dalam pelasanaan tugas berjalan dengan lancar.

 

8. Kemampuan bela diri

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan kemampuan beladiri, dikarenakan satuan dalmas dalam pelaksanaan tugas tidak jarang harus berhadapan dengan massa yang anarkis, dengan begitu setiap anggota wajib menguasai teknik bela diri guna mendukung pelaksanaan tugas di lapangan, dengan cara latihan rutin seperti beladiri dan penggunaan tongkat  ”T”.

 

9. Kemampuan dalam menggunakan peralatan dalmas

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan Kemampuan dalam menggunakan peralatan dalmas, ini sangat penting karena hal itu merupakan kelengkapan perorangan maupun pasukan dalam kegiatan pengamanan unjuk rasa, dengan menguasai peralatan dalmas maka akan menunjang pelaksanaan pengamanan unjuk rasa, dengan cara latihan secara rutin tentang penggunaan alat khusus maupun alat utama dalmas.

 

10. Kemampuan membentuk/mengubah formasi dengan cepat

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan kemampuan membentuk/mengubah formasi dengan cepat yang diperlukan dalam mengantisipasi perubahan/eskalasi massa dari damai ke anarkis, sehingga akan menunjang pelaksanaan tugas, dengan cara latihan secara rutin formasi–formasi dari berbagai jenis latihan

 

11. Kemampuan menilai karakteristik massa secara umum

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan kemampuan menilai karakteristik massa secara umum sesuai eskalasi, guna pengamanan secara profesional dengan mengenal sifat dan karekteristik massa akan lebih mudah dalam berkomunikasi dan pengendalian massa.

 

12. Kemampuan berkomunikasi dengan baik

Sebagai seorang angota dalmas diperlukan kemampuan berkomunikasi dengan baik guna mempermudah dalam komunikasi dengan massa maupun dengan satuan lain guna menghindarkan salah pengertian dalam komunikasi, sehingga terjadi dialog atau komunikasi yang baik antara petugas dan massa atau sebaliknya.

 

13. Kemampuan menggunakan kendaraan taktis pengurai massa dan alat khusus dalmas lainnya dengan baik

Sebagai satuan dalmas diperlukan  kemampuan menggunakan kendaraan taktis (rantis) pengurai massa dan alat khusus Dalmas lainnya dengan baik dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas lebih khusus lagi untuk menghadapi massa yang anarkis , dengan menguasai alsus rantis maka akan mendukung dalam pelaksanaan tugas di lapangan.

 

14. Kemampuan naik-turun kendaraan dengan tertib dan kecepatan berkumpul

Sebagai seorang anggota dalmas diperlukan  kemampuan naik-turun kendaraan dengan tertib dan kecepatan berkumpul sangat penting dalam satuan dalmas, pada pelaksanaan di lapangan diperlukan kecepatan bertindak dan berkumpul dengan jalan naik dan turun kendaraan kemudian langsung membentuk formasi, maka akan mendukung pelaksanaan tugas di lapangan.

 

Penulis         : Gilang

Editor           : Edi

Publisher     : Tahang



from TRIBRATANEWS POLDA KEPRI https://ift.tt/2PQQqyx
via IFTTT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reformasi Birokrasi Polri Dalam Bingkai Kemandirian Dan Profesionalitas

Tribratanews.kepri.polri.go.id – Kepolisian Negara Republik Indonesia, telah lahir, tumbuh dan berkembang menjadi organisasi kenegaraan seiring dengan sejarah perjalanan negara Republik Indonesia. Dalam perjalanan sejarahnya, Kepolisian Negara Republik Indonesia telah melalu berbagai macam peristiwa, yang tidak hanya menjadi bagian dari sejarah perjalanan organisasi Kepolisian Negara Republik Indonesia, namun juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia.   Salah satu bagian dari perjalanan sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia tersebut adalah pergantian pucuk pimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kapolri, yang disertai dengan berbagai macam gaya kepemimpinan dan kebijakan-kebijakan yang dikemukakan oleh para pemimpin Kepolisian Negara Republik Indonesia tersebut.   Reformasi yang sedang dilakukan oleh bangsa Indonesia mempunyai tujuan untuk mencapai suatu kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat yang berbentuk sebagai masyarakat...

Polda Kepri Selalu Menekan Tindak Pidana Peredaran narkoba di Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Tribratanews.kepri.polri.go.id –  Apa itu Narkoba?  Narkoba adalah obat berbahaya dan telah beredar secara populer di masyarakat, khususnya di kalangan pelajar. Hampir seluruh rakyat Indonesia mengetahui narkoba. Narkoba itu selalu dihindari karena berbahaya dan membuat orang kecanduan. Jika orang telah mengonsumsi narkoba, dan tiba-tiba tidak mengonsumsinya lagi, dia akan merasakan dorongan psikologis yang kuat untuk menkonsumsinya kembali. Terdapat 3 macam narkoba; narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Narkotika akan mengakibatkan perubahan kesadaran, mengurangi dan menghilangkan rasa sakit dan bisa menimbulkan ketergantungan (adiksi). Psikotropika mengubah susunan syaraf pusat sehingga mengganggu mental, dan mengubah perilaku. Zat adiktif berbahaya bagi tubuh karena merupakan zat kimia seperti etanol, inhalansia, tembakau. Peran Polda kepri dalam Memerangi Peredaran Narkoba. Polda Kepulauan riau Selalu melaksanakan sosialisasi, mengadakan pembicaraan tentang b...

Ancaman Pidana Bagi Netizen yang Berkomentar Body Shaming

Tribatanews.kepri.polri.go.id – Apakah komentar netizen yang berbau body shaming dapat dipidana? Apakah bisa dikenakan pasal penghinaan terhadap seseorang? Body shaming  adalah bentuk dari tindakan mengejek/menghina dengan mengomentari fisik (bentuk maupun ukuran tubuh) dan penampilan seseorang. Pada dasarnya penghinaan yang dilakukan melalui media sosial merupakan tindak pidana yang pelakunya dapat dijerat dengan Pasal 27 ayat (3) jo. Pasal 45 ayat (3)  Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana yang telah diubah oleh  Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik . Menjawab pertanyaan Anda, komentar berbau  body shaming  dapat dijerat dengan pasal penghinaan apabila korban merasa terhina dan melakukan aduan serta pelaku memenuhi seluruh unsur pidana dan telah melalui proses peradilan pidana. Apa ancaman pidana bagi pelaku? P...