Langsung ke konten utama

Mengapa Harus Promoter?

Tribratanews.kepri.polri.go.id – Dibawah kepemimpinan Tito Karnavian, institusi Polri mengusung sebuah program kebijakan dengan tagline Promoter yang merupakan singkatan dari Profesional, Modern dan Terpercaya. Banyak pertanyaan muncul tentang apa sebenarnya Promoter, apa konsep yang ditawarkan, bagaimana konsep ini bisa bekerja, dan yang paling penting adalah mengapa harus Promoter..? serta banyak lagi pertanyaan filosofis lainnya.

Promoter pertama kali dicetuskan saat proses fit and proper test calon Kapolri, dimana kala itu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen. Pol. Drs. Muhammad Tito Karnavian, MA., Ph.D.,yang duduk sebagai calon tunggal Kapolri. Dihadapan Komisi III DPR RI, Tito memaparkan 11 program prioritas guna mewujudkan Polri yang semakin profesional, modern dan terpercaya.

Promoter diperkenalkan sebagai sebuah program guna mewujudkan Polri yang semakin profesional, modern dan terpercaya. Profesionalisme Polri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahwa “Profesional adalah hal-hal yang menyangkut dengan profesi memerlukan kepandaian khusus, untuk menjalankannya mengharuskan adanya pembayaran atau biaya yang diperlukan”.

Mengacu pada hal tersebut, maka yang dimaksud dengan Profesionalisme Polri adalah “Kemahiran dan ketrampilan setiap anggota dan satuan Polri dalam melaksanakan tugas, fungsi dan perannya didukung pengetahuan, wawasan, moral etika serta etos kerja yang tinggi, dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun taktik dan teknik Kepolisian secara benar dan tepat berdasarkan hukum dan perundang -undangan maupun norma – norma umum lainnya yang berlaku”. Profesionalisme Polri dilakukan dengan meningkatkan kompetensi SDM Polri sehingga semakin berkualitas melalui peningkatan kapasitas pendidikan dan pelatihan, serta melakukan pola-pola berdasarkan prosedur baku yang mudah dipahami, dilaksanakan dan dapat diukur.

Modernisasi organisasi di era abad informasi ini sudah menjadi sebuah keniscyaaan. Pengelolaan sebuah organisasi yang masih tradisional, parsial dan manual sudah tidak cocok lagi dan harus segera dibenahi dengan melakukan modernisasi baik di bidang teknologi, sistem metode maupun manajerialnya. Lahirnya GOJEK, GRAB BIKE, UBER TAXI merupakan contoh nyata bagaimana pengelolaan sebuah bisnis secara modern dapat dengan cepat menghancurkan bisnis yang dikelola secara tradisional. Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, “Modern” dapat diartikan sebagai terbaru, mutakhir atau sikap dan cara berfikir dan cara bertindak sesuai tuntutan jaman. Organisasi Polri yang tersebar di seluruh penjuru tanah air harus dikelola secara modern berbasis teknologi informasi menuju terwujudnya e-policing. Polri yang modern diwujudkan dengan melakukan modernisasi dalam layanan publik yang didukung teknologi sehingga semakin mudah dan cepat diakses masyarakat, termasuk pemenuhan kebutuhan almatsus dan alpalkam yang semakin modern. Selain dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan publik, pemanfaatan teknologi dapat mengurangi interaksi langsung antara masyarakat dengan petugas sehingga dapat mengeliminir terjadinya suap maupun pungli.

Sehebat apapun peralatan yang digunakan Polri, namun akhirnya akan kembali kepada SDM yang mengoperasionalkannya. Modernisasi Polri tidak berhenti pada teknologi yang digunakan, tetapi juga mencakup modernisasi SDM Polri melalui perubahan mind set dan culture set dalam kerangka revolusi mental untuk dapat mencerminkan jati diri sebagai aparat yang mampu memberikan pelayanan, perlindungan dan pengayoman kepada masyarakat.

Kebijakan utama Promoter, dititik beratkan pada 3 (tiga) substansi utama yakni Peningkatan Kinerja, Perbaikan Kultur dan Manajemen Media. Peningkatan Kinerja dilaksanakan dengan menitik beratkan 3 point saja yakni profesionalisme dalam penegakan hukum, peningkatan layanan publik yang berbasis IT, dan pemeliharaan kamtibmas yang lebih optimal. Sedangkan Perbaikan Kultur dilakukan juga dengan menitikberatkan pada 3 point utama, yaitu menekan budaya koruptif, menghilangkan kekerasan eksesif dan menghilangkan arogansi kekuasaan. Sedangkan Manajemen media dilakukan terhadap media konvensional maupun media sosial, guna mengangkat berita positif tentang kinerja dan berbagai upaya perbaikan kultur.

Dalam merealisasikan kebijakan ini, dibuatlah point-point utama yang menjadi pekerjaan rumah Polri untuk mewujudkannya, yaitu : Menekan Budaya Koruptif, Sosok Polisi yang Humanis, Perbaikan Layanan Publik, Profesionalisme Dalam Penegakkan hukum, Peningkatan Stabilitas Kamtibmas, dan Manajemen Media.

Penulis : Rexi

Editor : Tahang

Publish : Tahang



from TRIBRATANEWS POLDA KEPRI https://ift.tt/2QmsgPL
via IFTTT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Reformasi Birokrasi Polri Dalam Bingkai Kemandirian Dan Profesionalitas

Tribratanews.kepri.polri.go.id – Kepolisian Negara Republik Indonesia, telah lahir, tumbuh dan berkembang menjadi organisasi kenegaraan seiring dengan sejarah perjalanan negara Republik Indonesia. Dalam perjalanan sejarahnya, Kepolisian Negara Republik Indonesia telah melalu berbagai macam peristiwa, yang tidak hanya menjadi bagian dari sejarah perjalanan organisasi Kepolisian Negara Republik Indonesia, namun juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia.   Salah satu bagian dari perjalanan sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia tersebut adalah pergantian pucuk pimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kapolri, yang disertai dengan berbagai macam gaya kepemimpinan dan kebijakan-kebijakan yang dikemukakan oleh para pemimpin Kepolisian Negara Republik Indonesia tersebut.   Reformasi yang sedang dilakukan oleh bangsa Indonesia mempunyai tujuan untuk mencapai suatu kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat yang berbentuk sebagai masyarakat...

Polda Kepri Selalu Menekan Tindak Pidana Peredaran narkoba di Wilayah Provinsi Kepulauan Riau

Tribratanews.kepri.polri.go.id –  Apa itu Narkoba?  Narkoba adalah obat berbahaya dan telah beredar secara populer di masyarakat, khususnya di kalangan pelajar. Hampir seluruh rakyat Indonesia mengetahui narkoba. Narkoba itu selalu dihindari karena berbahaya dan membuat orang kecanduan. Jika orang telah mengonsumsi narkoba, dan tiba-tiba tidak mengonsumsinya lagi, dia akan merasakan dorongan psikologis yang kuat untuk menkonsumsinya kembali. Terdapat 3 macam narkoba; narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Narkotika akan mengakibatkan perubahan kesadaran, mengurangi dan menghilangkan rasa sakit dan bisa menimbulkan ketergantungan (adiksi). Psikotropika mengubah susunan syaraf pusat sehingga mengganggu mental, dan mengubah perilaku. Zat adiktif berbahaya bagi tubuh karena merupakan zat kimia seperti etanol, inhalansia, tembakau. Peran Polda kepri dalam Memerangi Peredaran Narkoba. Polda Kepulauan riau Selalu melaksanakan sosialisasi, mengadakan pembicaraan tentang b...

Ancaman Pidana Bagi Netizen yang Berkomentar Body Shaming

Tribatanews.kepri.polri.go.id – Apakah komentar netizen yang berbau body shaming dapat dipidana? Apakah bisa dikenakan pasal penghinaan terhadap seseorang? Body shaming  adalah bentuk dari tindakan mengejek/menghina dengan mengomentari fisik (bentuk maupun ukuran tubuh) dan penampilan seseorang. Pada dasarnya penghinaan yang dilakukan melalui media sosial merupakan tindak pidana yang pelakunya dapat dijerat dengan Pasal 27 ayat (3) jo. Pasal 45 ayat (3)  Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana yang telah diubah oleh  Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik . Menjawab pertanyaan Anda, komentar berbau  body shaming  dapat dijerat dengan pasal penghinaan apabila korban merasa terhina dan melakukan aduan serta pelaku memenuhi seluruh unsur pidana dan telah melalui proses peradilan pidana. Apa ancaman pidana bagi pelaku? P...